Taman Nasional Gunung Ciremai
SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI
Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini
PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI
KONDISI FISIK KAWASAN
| LUAS KAWASAN | : |
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober
2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten
Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
|
| TOPOGRAFI | : |
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
|
| IKLIM | : |
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
|
| GEOLOGI | : |
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
|
| TANAH | : |
Regosol , latosol, andosol.
|
BIO FISIK KAWASAN
Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam
wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500
Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa
di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan
alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan
dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin.
Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat
dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.
FUNGSI EKOLOGIS
| Habitat Flora Fauna Langka | |
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung
tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan
habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus
bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
|
|
| Potensi Hidrologis Kawasan | |
| Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn : | |
| - | Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun |
| - | Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun |
F L O R A
Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi
tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek
termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar
(Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang
mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan
jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata,
Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai
didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara
(Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh
Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis
(Anaphalissp)(LIPI, 2001).
F A U N A
Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara
lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan
Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung
(Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang
(Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis
bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa
thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik
(Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung
berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung
sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah
yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax
rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa
(Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC
menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode
JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).
ATRAKSI WISATA
| Jalur Pendakian | |||||||||||||||||||||||||||||||
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan
salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan
rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang.
Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di
Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Alam | |||||||||||||||||||||||||||||||
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki
nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai,
hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian
alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan
wilayah Kuningan antara lain
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain: | |||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Budaya | |||||||||||||||||||||||||||||||
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki
tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat
setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk
(Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ
Ayu Lintang (Mandirancan).
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Pendidikan | |||||||||||||||||||||||||||||||
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki
tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat
setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk
(Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ
Ayu Lintang (Mandirancan).
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| AKSESIBILITAS | ||
| Jakarta - Cirebon - Linggarjati Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja |
||
| TATA TERTIB PENGUNJUNG | ||
| ||
Gedung Perundingan Linggarjati
14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca4 3 896
Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai
berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah
milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama
Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi
permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama
Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan
hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini
diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah
Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun
1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara
Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan
Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung
ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah
linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di
tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi
militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun
1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini
bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada
koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati
ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha.
Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar
bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam.
Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok
kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang
memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu
tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang
nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan.
Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau
lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung
kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah
ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur,
salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat
ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini.
Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa
kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati
gang.
Gedung Perundingan Linggarjati
14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca4 3 896
Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai
berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah
milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama
Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi
permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama
Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan
hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini
diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah
Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun
1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara
Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan
Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung
ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah
linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di
tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi
militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun
1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini
bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada
koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati
ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha.
Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar
bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam.
Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok
kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang
memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu
tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang
nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan.
Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau
lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung
kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah
ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur,
salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat
ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini.
Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa
kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati
gang.
Gedung Perundingan Linggarjati
14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca4 3 896
Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai
berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah
milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama
Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi
permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama
Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan
hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini
diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah
Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun
1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara
Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan
Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung
ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah
linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di
tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi
militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun
1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini
bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada
koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati
ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha.
Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar
bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam.
Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok
kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang
memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu
tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang
nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan.
Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau
lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung
kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah
ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur,
salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat
ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini.
Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa
kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati
gang.
Gedung Perundingan Linggarjati
14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca4 3 896
Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai
berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah
milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama
Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi
permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama
Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan
hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini
diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah
Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun
1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara
Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan
Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung
ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah
linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di
tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi
militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun
1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini
bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada
koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati
ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha.
Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar
bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam.
Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok
kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang
memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu
tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang
nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan.
Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau
lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung
kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah
ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur,
salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat
ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini.
Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa
kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati
gang.
Lokasi:
Koordinat : 06º52’7” S, 108º28’9” E
Telepon:
Email:
Internet:
Arah:
Fasilitas:
Jam Buka:
Tutup:
Tiket:
Informasi Lebih Lanjut:
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=63&lang=id#sthash.X74Wzvvl.dpuf
Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Linggarjati).
Gedung perundingan Linggarjati semula merupakan sebuah bangunan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918, yang kemudian berkembang dan berganti kepemilikan sampai digunakan sebagai gedung perundingan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Lokasinya yang terletak di kaki gunung dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk lokasi peristirahatan dan hotel.
Berikut adalah sejarah gedung perundingan Linggarjati:
Tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem
Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.
Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Os.
Johannes Van Os, pemilik bangunan museum linggarjati pada tahun 1930
Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.
Tahun 1942 Jepang menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.
Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.
Tahun 1946 di gedung ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati.
Tahung 1948 sampai 1950 semenjak agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda.
Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini ditempati oleh sekolah dasar negeri linggarjati.
Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk sekolah dasar negeri Linggarjati.
Salah
Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk dijadikan museum memorial.
Demikianlah perjalanan panjang sebuah gedung yang sangat bersejarah bagi berdirinya Bangsa Indonesia yang merdeka saat ini.
Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Linggarjati).
Gedung perundingan Linggarjati semula merupakan sebuah bangunan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918, yang kemudian berkembang dan berganti kepemilikan sampai digunakan sebagai gedung perundingan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Lokasinya yang terletak di kaki gunung dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk lokasi peristirahatan dan hotel.
Berikut adalah sejarah gedung perundingan Linggarjati:
Tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem
Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.
Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Os.
Johannes Van Os, pemilik bangunan museum linggarjati pada tahun 1930
Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.
Tahun 1942 Jepang menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.
Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.
Tahun 1946 di gedung ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati.
Tahung 1948 sampai 1950 semenjak agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda.
Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini ditempati oleh sekolah dasar negeri linggarjati.
Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk sekolah dasar negeri Linggarjati.
Salah satu kamar.
Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk dijadikan museum memorial.
Demikianlah perjalanan panjang sebuah gedung yang sangat bersejarah bagi berdirinya Bangsa Indonesia yang merdeka saat ini.
Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Linggarjati).
Gedung perundingan Linggarjati semula merupakan sebuah bangunan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918, yang kemudian berkembang dan berganti kepemilikan sampai digunakan sebagai gedung perundingan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Lokasinya yang terletak di kaki gunung dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk lokasi peristirahatan dan hotel.
Berikut adalah sejarah gedung perundingan Linggarjati:
Tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem
Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.
Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Os.
Johannes Van Os, pemilik bangunan museum linggarjati pada tahun 1930
Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.
Tahun 1942 Jepang menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.
Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.
Tahun 1946 di gedung ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati.
Tahung 1948 sampai 1950 semenjak agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda.
Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini ditempati oleh sekolah dasar negeri linggarjati.
Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk sekolah dasar negeri Linggarjati.
Salah satu kamar.
Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk dijadikan museum memorial.
Demikianlah perjalanan panjang sebuah gedung yang sangat bersejarah bagi berdirinya Bangsa Indonesia yang merdeka saat ini.
Taman Nasional Gunung Ciremai
SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI
Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini
PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI
KONDISI FISIK KAWASAN
| LUAS KAWASAN | : |
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober
2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten
Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
|
| TOPOGRAFI | : |
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
|
| IKLIM | : |
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
|
| GEOLOGI | : |
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
|
| TANAH | : |
Regosol , latosol, andosol.
|
BIO FISIK KAWASAN
Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam
wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500
Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa
di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan
alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan
dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin.
Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat
dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.
FUNGSI EKOLOGIS
| Habitat Flora Fauna Langka | |
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung
tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan
habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus
bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
|
|
| Potensi Hidrologis Kawasan | |
| Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn : | |
| - | Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun |
| - | Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun |
F L O R A
Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi
tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek
termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar
(Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang
mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan
jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata,
Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai
didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara
(Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh
Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis
(Anaphalissp)(LIPI, 2001).
F A U N A
Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara
lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan
Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung
(Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang
(Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis
bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa
thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik
(Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung
berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung
sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah
yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax
rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa
(Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC
menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode
JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).
ATRAKSI WISATA
| Jalur Pendakian | |||||||||||||||||||||||||||||||
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan
salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan
rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang.
Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di
Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Alam | |||||||||||||||||||||||||||||||
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki
nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai,
hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian
alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan
wilayah Kuningan antara lain
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain: | |||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Budaya | |||||||||||||||||||||||||||||||
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki
tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat
setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk
(Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ
Ayu Lintang (Mandirancan).
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Pendidikan | |||||||||||||||||||||||||||||||
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki
tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat
setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk
(Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ
Ayu Lintang (Mandirancan).
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| AKSESIBILITAS | ||
| Jakarta - Cirebon - Linggarjati Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja |
||
| TATA TERTIB PENGUNJUNG | ||
| ||
Taman Nasional Gunung Ciremai
SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI
Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini
PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI
KONDISI FISIK KAWASAN
| LUAS KAWASAN | : |
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober
2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten
Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
|
| TOPOGRAFI | : |
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
|
| IKLIM | : |
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
|
| GEOLOGI | : |
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
|
| TANAH | : |
Regosol , latosol, andosol.
|
BIO FISIK KAWASAN
Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam
wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500
Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa
di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan
alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan
dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin.
Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat
dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.
FUNGSI EKOLOGIS
| Habitat Flora Fauna Langka | |
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung
tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan
habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus
bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
|
|
| Potensi Hidrologis Kawasan | |
| Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn : | |
| - | Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun |
| - | Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun |
F L O R A
Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi
tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek
termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar
(Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang
mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan
jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata,
Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai
didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara
(Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh
Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis
(Anaphalissp)(LIPI, 2001).
F A U N A
Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara
lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan
Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung
(Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang
(Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis
bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa
thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik
(Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung
berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung
sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah
yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax
rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa
(Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC
menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode
JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).
ATRAKSI WISATA
| Jalur Pendakian | |||||||||||||||||||||||||||||||
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan
salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan
rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang.
Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di
Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Alam | |||||||||||||||||||||||||||||||
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki
nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai,
hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian
alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan
wilayah Kuningan antara lain
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain: | |||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Budaya | |||||||||||||||||||||||||||||||
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki
tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat
setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk
(Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ
Ayu Lintang (Mandirancan).
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Pendidikan | |||||||||||||||||||||||||||||||
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki
tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat
setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk
(Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ
Ayu Lintang (Mandirancan).
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| AKSESIBILITAS | ||
| Jakarta - Cirebon - Linggarjati Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja |
||
| TATA TERTIB PENGUNJUNG | ||
| ||
Taman Nasional Gunung Ciremai
SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI
Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini
PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI
KONDISI FISIK KAWASAN
| LUAS KAWASAN | : |
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober
2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten
Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
|
| TOPOGRAFI | : |
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
|
| IKLIM | : |
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
|
| GEOLOGI | : |
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
|
| TANAH | : |
Regosol , latosol, andosol.
|
BIO FISIK KAWASAN
Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam
wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500
Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa
di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan
alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan
dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin.
Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat
dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.
FUNGSI EKOLOGIS
| Habitat Flora Fauna Langka | |
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung
tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan
habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus
bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
|
|
| Potensi Hidrologis Kawasan | |
| Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn : | |
| - | Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun |
| - | Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun |
F L O R A
Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi
tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek
termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar
(Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang
mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan
jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata,
Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai
didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara
(Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh
Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis
(Anaphalissp)(LIPI, 2001).
F A U N A
Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara
lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan
Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung
(Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang
(Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis
bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa
thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik
(Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung
berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung
sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah
yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax
rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa
(Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC
menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode
JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).
ATRAKSI WISATA
| Jalur Pendakian | |||||||||||||||||||||||||||||||
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan
salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan
rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang.
Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di
Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Alam | |||||||||||||||||||||||||||||||
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki
nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai,
hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian
alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan
wilayah Kuningan antara lain
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain: | |||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Budaya | |||||||||||||||||||||||||||||||
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki
tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat
setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk
(Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ
Ayu Lintang (Mandirancan).
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| Wisata Pendidikan | |||||||||||||||||||||||||||||||
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki
tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat
setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk
(Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ
Ayu Lintang (Mandirancan).
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||
| AKSESIBILITAS | ||
| Jakarta - Cirebon - Linggarjati Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja |
||
| TATA TERTIB PENGUNJUNG | ||
| ||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar