seni calung

Senin, 22 Februari 2016

wisata taman nasional gunung ciremai

Taman Nasional Gunung Ciremai

SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI

Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini



PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI



KONDISI FISIK KAWASAN


LUAS KAWASAN :
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
TOPOGRAFI :
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
IKLIM :
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
GEOLOGI :
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
TANAH :
Regosol , latosol, andosol.




BIO FISIK KAWASAN

Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500 Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin. Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.



FUNGSI EKOLOGIS


Habitat Flora Fauna Langka
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
Potensi Hidrologis Kawasan
Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn :
- Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun
- Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun




F L O R A

Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar (Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis (Anaphalissp)(LIPI, 2001).



F A U N A

Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung (Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik (Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).



ATRAKSI WISATA


Jalur Pendakian
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang. Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
Wisata Alam
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai, hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan wilayah Kuningan antara lain
  1. Lembah Cilengkrang, Curug sawer, Curug Sabuk ( Pajambon)
  2. Telaga Remis dan air deras Paniis (Pasawahan)
  3. Curug putri (Cigugur)
Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain:
  1. Curug Sawer (Argapura)
  2. Curug Tonjong dan panorama alam Sadarehe (Rajagaluh)
Wisata Budaya
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
Wisata Pendidikan
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
 
No.
Nama Objek
Desa
Kecamatan
Kabupaten
1
Bumi Perkemahan Cipada Argalingga Argapura Majalengka
2
Lembah Cilengkrang Pajambon Kramatmulya Kuningan
3
Bumi Perkemahan Paniis Paniis Pasawahan Kuningan
4
Bumi Perkemahan Cibeureum Setianegara Cilimus Kuningan
5
Bumi Perkemahan Palutungan Cisantana Cigugur Kuningan

AKSESIBILITAS
Jakarta - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja
TATA TERTIB PENGUNJUNG
  1. Pengunjung dengan tujuan wisata dan kunjungan khusus ( pengamatan dan penelitian) dapat menghubungi kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk mendapatkan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi).
  2. Tidak mengambil flora dan fauna atau bagian lainnya dari dalam kawasan.
  3. Tidak meninggalkan sampah sembarangan di dalam kawasan.
  4. Pastikan bara api padam sebelum meninggalkan kawasan.
  5. Melaporkan gangguan kawasan kepada petugas Balai TNGC.

Gedung Perundingan Linggarjati

14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca
 4  3  896


Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun 1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha. Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam. Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan. Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur, salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat  ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini. Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati gang.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=63&lang=id#sthash.X74Wzvvl.dpuf

Gedung Perundingan Linggarjati

14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca
 4  3  896


Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun 1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha. Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam. Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan. Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur, salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat  ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini. Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati gang.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=63&lang=id#sthash.X74Wzvvl.dpuf

Gedung Perundingan Linggarjati

14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca
 4  3  896


Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun 1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha. Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam. Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan. Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur, salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat  ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini. Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati gang.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=63&lang=id#sthash.X74Wzvvl.dpuf

Gedung Perundingan Linggarjati

14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca
 4  3  896


Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun 1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha. Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam. Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan. Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur, salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat  ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini. Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati gang.
Lokasi:  
Koordinat : 06º52’7” S, 108º28’9” E
Telepon: 
Email:
Internet:
Arah:  
Fasilitas: 
Jam Buka:
Tutup:
Tiket:
Informasi Lebih Lanjut:
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=63&lang=id#sthash.X74Wzvvl.dpuf
Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Linggarjati).

Linggarjati

Gedung perundingan Linggarjati semula merupakan sebuah bangunan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918, yang kemudian berkembang dan berganti kepemilikan sampai digunakan sebagai gedung perundingan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Lokasinya yang terletak di kaki gunung dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk lokasi peristirahatan dan hotel.

Berikut adalah sejarah gedung perundingan Linggarjati:

Tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem

Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.

Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Os.

Linggarjati
Johannes Van Os, pemilik bangunan museum linggarjati pada tahun 1930

Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.

Tahun 1942 Jepang menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.

Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.

Tahun 1946 di gedung ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati.

Tahung 1948 sampai 1950 semenjak agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda.

Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini ditempati oleh sekolah dasar negeri linggarjati.

Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk sekolah dasar negeri Linggarjati.

Linggarjati
Salah

Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk dijadikan museum memorial.

Demikianlah perjalanan panjang sebuah gedung yang sangat bersejarah bagi berdirinya Bangsa Indonesia yang merdeka saat ini.
 
Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Linggarjati).

Linggarjati

Gedung perundingan Linggarjati semula merupakan sebuah bangunan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918, yang kemudian berkembang dan berganti kepemilikan sampai digunakan sebagai gedung perundingan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Lokasinya yang terletak di kaki gunung dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk lokasi peristirahatan dan hotel.

Berikut adalah sejarah gedung perundingan Linggarjati:

Tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem

Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.

Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Os.

Linggarjati
Johannes Van Os, pemilik bangunan museum linggarjati pada tahun 1930

Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.

Tahun 1942 Jepang menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.

Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.

Tahun 1946 di gedung ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati.

Tahung 1948 sampai 1950 semenjak agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda.

Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini ditempati oleh sekolah dasar negeri linggarjati.

Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk sekolah dasar negeri Linggarjati.

Linggarjati
Salah satu kamar.

Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk dijadikan museum memorial.

Demikianlah perjalanan panjang sebuah gedung yang sangat bersejarah bagi berdirinya Bangsa Indonesia yang merdeka saat ini.
 
Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Linggarjati).

Linggarjati

Gedung perundingan Linggarjati semula merupakan sebuah bangunan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918, yang kemudian berkembang dan berganti kepemilikan sampai digunakan sebagai gedung perundingan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Lokasinya yang terletak di kaki gunung dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk lokasi peristirahatan dan hotel.

Berikut adalah sejarah gedung perundingan Linggarjati:

Tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem

Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.

Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Os.

Linggarjati
Johannes Van Os, pemilik bangunan museum linggarjati pada tahun 1930

Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.

Tahun 1942 Jepang menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.

Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.

Tahun 1946 di gedung ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati.

Tahung 1948 sampai 1950 semenjak agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda.

Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini ditempati oleh sekolah dasar negeri linggarjati.

Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk sekolah dasar negeri Linggarjati.

Linggarjati
Salah satu kamar.

Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk dijadikan museum memorial.

Demikianlah perjalanan panjang sebuah gedung yang sangat bersejarah bagi berdirinya Bangsa Indonesia yang merdeka saat ini.
 

Taman Nasional Gunung Ciremai

SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI

Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini



PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI



KONDISI FISIK KAWASAN


LUAS KAWASAN :
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
TOPOGRAFI :
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
IKLIM :
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
GEOLOGI :
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
TANAH :
Regosol , latosol, andosol.




BIO FISIK KAWASAN

Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500 Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin. Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.



FUNGSI EKOLOGIS


Habitat Flora Fauna Langka
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
Potensi Hidrologis Kawasan
Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn :
- Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun
- Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun




F L O R A

Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar (Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis (Anaphalissp)(LIPI, 2001).



F A U N A

Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung (Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik (Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).



ATRAKSI WISATA


Jalur Pendakian
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang. Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
Wisata Alam
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai, hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan wilayah Kuningan antara lain
  1. Lembah Cilengkrang, Curug sawer, Curug Sabuk ( Pajambon)
  2. Telaga Remis dan air deras Paniis (Pasawahan)
  3. Curug putri (Cigugur)
Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain:
  1. Curug Sawer (Argapura)
  2. Curug Tonjong dan panorama alam Sadarehe (Rajagaluh)
Wisata Budaya
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
Wisata Pendidikan
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
 
No.
Nama Objek
Desa
Kecamatan
Kabupaten
1
Bumi Perkemahan Cipada Argalingga Argapura Majalengka
2
Lembah Cilengkrang Pajambon Kramatmulya Kuningan
3
Bumi Perkemahan Paniis Paniis Pasawahan Kuningan
4
Bumi Perkemahan Cibeureum Setianegara Cilimus Kuningan
5
Bumi Perkemahan Palutungan Cisantana Cigugur Kuningan

AKSESIBILITAS
Jakarta - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja
TATA TERTIB PENGUNJUNG
  1. Pengunjung dengan tujuan wisata dan kunjungan khusus ( pengamatan dan penelitian) dapat menghubungi kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk mendapatkan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi).
  2. Tidak mengambil flora dan fauna atau bagian lainnya dari dalam kawasan.
  3. Tidak meninggalkan sampah sembarangan di dalam kawasan.
  4. Pastikan bara api padam sebelum meninggalkan kawasan.
  5. Melaporkan gangguan kawasan kepada petugas Balai TNGC.

Taman Nasional Gunung Ciremai

SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI

Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini



PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI



KONDISI FISIK KAWASAN


LUAS KAWASAN :
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
TOPOGRAFI :
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
IKLIM :
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
GEOLOGI :
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
TANAH :
Regosol , latosol, andosol.




BIO FISIK KAWASAN

Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500 Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin. Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.



FUNGSI EKOLOGIS


Habitat Flora Fauna Langka
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
Potensi Hidrologis Kawasan
Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn :
- Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun
- Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun




F L O R A

Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar (Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis (Anaphalissp)(LIPI, 2001).



F A U N A

Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung (Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik (Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).



ATRAKSI WISATA


Jalur Pendakian
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang. Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
Wisata Alam
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai, hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan wilayah Kuningan antara lain
  1. Lembah Cilengkrang, Curug sawer, Curug Sabuk ( Pajambon)
  2. Telaga Remis dan air deras Paniis (Pasawahan)
  3. Curug putri (Cigugur)
Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain:
  1. Curug Sawer (Argapura)
  2. Curug Tonjong dan panorama alam Sadarehe (Rajagaluh)
Wisata Budaya
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
Wisata Pendidikan
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
 
No.
Nama Objek
Desa
Kecamatan
Kabupaten
1
Bumi Perkemahan Cipada Argalingga Argapura Majalengka
2
Lembah Cilengkrang Pajambon Kramatmulya Kuningan
3
Bumi Perkemahan Paniis Paniis Pasawahan Kuningan
4
Bumi Perkemahan Cibeureum Setianegara Cilimus Kuningan
5
Bumi Perkemahan Palutungan Cisantana Cigugur Kuningan

AKSESIBILITAS
Jakarta - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja
TATA TERTIB PENGUNJUNG
  1. Pengunjung dengan tujuan wisata dan kunjungan khusus ( pengamatan dan penelitian) dapat menghubungi kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk mendapatkan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi).
  2. Tidak mengambil flora dan fauna atau bagian lainnya dari dalam kawasan.
  3. Tidak meninggalkan sampah sembarangan di dalam kawasan.
  4. Pastikan bara api padam sebelum meninggalkan kawasan.
  5. Melaporkan gangguan kawasan kepada petugas Balai TNGC.

Taman Nasional Gunung Ciremai

SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI

Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini



PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI



KONDISI FISIK KAWASAN


LUAS KAWASAN :
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
TOPOGRAFI :
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
IKLIM :
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
GEOLOGI :
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
TANAH :
Regosol , latosol, andosol.




BIO FISIK KAWASAN

Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500 Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin. Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.



FUNGSI EKOLOGIS


Habitat Flora Fauna Langka
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
Potensi Hidrologis Kawasan
Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn :
- Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun
- Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun




F L O R A

Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar (Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis (Anaphalissp)(LIPI, 2001).



F A U N A

Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung (Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik (Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).



ATRAKSI WISATA


Jalur Pendakian
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang. Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
Wisata Alam
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai, hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan wilayah Kuningan antara lain
  1. Lembah Cilengkrang, Curug sawer, Curug Sabuk ( Pajambon)
  2. Telaga Remis dan air deras Paniis (Pasawahan)
  3. Curug putri (Cigugur)
Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain:
  1. Curug Sawer (Argapura)
  2. Curug Tonjong dan panorama alam Sadarehe (Rajagaluh)
Wisata Budaya
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
Wisata Pendidikan
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
 
No.
Nama Objek
Desa
Kecamatan
Kabupaten
1
Bumi Perkemahan Cipada Argalingga Argapura Majalengka
2
Lembah Cilengkrang Pajambon Kramatmulya Kuningan
3
Bumi Perkemahan Paniis Paniis Pasawahan Kuningan
4
Bumi Perkemahan Cibeureum Setianegara Cilimus Kuningan
5
Bumi Perkemahan Palutungan Cisantana Cigugur Kuningan

AKSESIBILITAS
Jakarta - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja
TATA TERTIB PENGUNJUNG
  1. Pengunjung dengan tujuan wisata dan kunjungan khusus ( pengamatan dan penelitian) dapat menghubungi kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk mendapatkan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi).
  2. Tidak mengambil flora dan fauna atau bagian lainnya dari dalam kawasan.
  3. Tidak meninggalkan sampah sembarangan di dalam kawasan.
  4. Pastikan bara api padam sebelum meninggalkan kawasan.
  5. Melaporkan gangguan kawasan kepada petugas Balai TNGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar