seni calung

Rabu, 24 Februari 2016

daftar kecamatan di kota kuningan

Daftar Kecamatan

  1. Kecamatan Ciawigebang

    Alamat Kantor:
    Jalan Siliwangi No. 145 Ciawigebang - Kuningan
    Telp./ Fax.:
    0232-878443
    Camat:
    MAMAN RUSMANA, S.Sos.
  2. Kecamatan Cibeureum

    Alamat Kantor:
    Jl.Raya Cibingbin-Cibeureum
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    TATA KURNIA, SH
  3. Kecamatan Cibingbin

    Alamat Kantor:
    Jln.Raya Sukaharja - Cibingbin No. 03
    Telp./ Fax.:
    0232-6003471
    Camat:
    RUSLANI, S.Sos
  4. Kecamatan Cidahu

    Alamat Kantor:
    Jl.Raya Cidahu No.59 Cidahu - Kuningan 45595
    Telp./ Fax.:
    0232-876 253
    Camat:
    RUSMIADI, AP.,S.Sos.,M.Si.
  5. Kecamatan Cigandamekar

    Alamat Kantor:
    Jalan Panawuan - Bunigeulis
    Telp./ Fax.:
    0232- 86172873
    Camat:
    SUPARMAN, S.Sos
  6. Kecamatan Cigugur

    Alamat Kantor:
    Jl. R.A. Mortasiah Soepomo No. 02 Cigugur Kuningan
    Telp./ Fax.:
    (0232) 874005
    Camat:
    Drs. AGUS BASUKI, M.Si
  7. Kecamatan Cilebak

    Alamat Kantor:
    Jl.Raya Desa Cilebak Nomor 01 Kuningan
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    ARBA, S.Sos
  8. Kecamatan Cilimus

    Alamat Kantor:
    Jl.Raya Cilimus No.240
    Telp./ Fax.:
    0232-613014
    Camat:
    YUNARA, S.Sos.
  9. Kecamatan Cimahi

    Alamat Kantor:
    Jl.Raya Cimahi-Kab.Kuningan
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    DIDIN BAHRUDIN, S.Sos
  10. Kecamatan Ciniru

    Alamat Kantor:
    Jl.Raya Ciniru No.1
    Telp./ Fax.:
    0232-876255
    Camat:
    Drs. JAENUDIN
  11. Kecamatan Cipicung

    Alamat Kantor:
    Jl.Raya Mekarsari No.134 Cipicung 45592
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    Drs. DEDEN SOPANDI,M.Si.
  12. Kecamatan Ciwaru

    Alamat Kantor:
    Jl. Pramuka No. 592 Ciwaru - Kuningan 45583
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    MUHAMMAD SOLIHIN, S.Sos.,M.Si
  13. Kecamatan Darma

    Alamat Kantor:
    JL Raya Parung - Darma No. 1
    Telp./ Fax.:
    (0232) 8880107
    Camat:
    JOJO SUHARSA KASIRAN, S.Sos
  14. Kecamatan Garawangi

    Alamat Kantor:
    Jalan Raya Garawangi No.80 Kuningan 45571
    Telp./ Fax.:
    0232 - 874706
    Camat:
    BISRI, S.AP
  15. Kecamatan Hantara

    Alamat Kantor:
    Jalan Raya Hantara - Kuningan No.1 Kode Pos 45564
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    Drs. H. PEPEN SUPENDI
  16. Kecamatan Jalaksana

    Alamat Kantor:
    Jalan Raya Jalaksana No. 172 45554
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    Jalan Raya Jalaksana No. 172 45554
  17. Kecamatan Japara

    Alamat Kantor:
    Jl.Raya Kecamatan No.47 Japara
    Telp./ Fax.:
    0232-616364
    Camat:
    SURYONO, S.Sn.,MM.
  18. Kecamatan Kadugede

    Alamat Kantor:
    Kadugede No.58 Kuningan
    Telp./ Fax.:
    (0232) 871884
    Camat:
    YANUAR SUYONO, Sm.Hk
  19. Kecamatan Kalimanggis

    Alamat Kantor:
    Jalan Raya Kalimanggis Kode Pos 45594
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    Drs. DEDI HANADI WANGSA
  20. Kecamatan Karangkancana

    Alamat Kantor:
    Jalan Sebelas April No. 72 Karangkancana Kuningan 45584
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    R. IMAN REAPDIANTORO,S.Sos.,M.Si
  21. Kecamatan Kramatmulya

    Alamat Kantor:
    Jl.Kecamatan Desa Kalapagunung No.157 45553
    Telp./ Fax.:
    (0232) 876318
    Camat:
    DIAN FENTI ASMARA, S.AP
  22. Kecamatan Kuningan

    Alamat Kantor:
    Aruji Kartawinata No.25 Kuningan 45511
    Telp./ Fax.:
    (0232) 871177
    Camat:
    Dra. ENY SUKARSIH, M.Si
  23. Kecamatan Lebakwangi

    Alamat Kantor:
    Jl.Raya Lebakwangi No.254
    Telp./ Fax.:
    0232-876254
    Camat:
    DEDE DUSRO,S.Pi
  24. Kecamatan Luragung

    Alamat Kantor:
    Jl.Siliwangi No.12 Luragung
    Telp./ Fax.:
    0232-876256
    Camat:
    BENI PRIHAYATNO, S.Sos., M.Si.
  25. Kecamatan Maleber

    Alamat Kantor:
    Jalan Raya Maleber No.458 Desa Maleber Kecamatan Maleber Kabupaten
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    JUBAEDAH, SE
  26. Kecamatan Mandirancan

    Alamat Kantor:
    Jalan Raya Mandirancan No. 41 Kode Pos 45553
    Telp./ Fax.:
    (0231) 3361069
    Camat:
    Drs. TATANG TARYONO, M.Si.
  27. Kecamatan Nusaherang

    Alamat Kantor:
    Jalan Raya Cikadu
    Telp./ Fax.:
    0232-8880612
    Camat:
    SUSILAWATI,S.Sos
  28. Kecamatan Pancalang

    Alamat Kantor:
    Jalan.Raya Pancalang No.5 Kab.Kuningan Kode Pos 45557
    Telp./ Fax.:
    0232-615062
    Camat:
    TOMI BAKRI, S.Sos., M.Si.
  29. Kecamatan Pasawahan

    Alamat Kantor:
    Jalan Raya Pasawahan No.7 Kode Pos 45559
    Telp./ Fax.:
    -
    Camat:
    AGUS SUMITRA, S.Sos.
  30. Kecamatan Selajambe

    Alamat Kantor:
    Jln.Siliwangi No. 61
    Telp./ Fax.:
    0232-6000166
    Camat:
    Drs. ANANG SUNDANA SUNARDI, M.Si.
  31. Kecamatan Sindangagung

    Alamat Kantor:
    Jalan Raya Sindangagung - Kuningan Jawa Barat 45573
    Telp./ Fax.:
    (0232)-887743
    Camat:
    EKO YUYUD MAHAENDRA, AP.,M.Si
  32. Kecamatan Subang

    Alamat Kantor:
    Jln.H.O Iskandar No. 13 Subang
    Telp./ Fax.:
    0232-876250
    Camat:
    Drs. OYO ROCHYADI

sejarah gedung perundingan linggarjati

Gedung Perundingan Linggarjati

Gedung Perundingan Linggarjati adalah tempat diadakannya perundingan antara Republik Indonesia dengan Pemerintah belanda pasca perang kemerdekaan. terletak di desa Linggajati kecamatan Cilimus kabupaten Kuningan.

Sejarah

Gedung Perundingan Linggajati merupakan saksi sejarah tempat dilaksanakannya Perundingan Linggajati pada bulan November 1946. Karena tidak memungkinkan perundingan dilakukan di Jakarta maupun di Yogyakarta (ibukota sementara RI), maka diambil jalan tengah jika perjanjian diadakan di Linggajati, Kuningan. Hari Minggu pada tanggal 10 November 1946 Lord Killearn tiba di Cirebon. Ia berangkat dari Jakarta menumpang kapal fregat Inggris H.M.S. Veryan Bay. Ia tidak berkeberatan menginap di Hotel Linggajati yang sekaligus menjadi tempat perundingan.
Delegasi Belanda berangkat dari Jakarta dengan menumpang kapal terbang “Catalina” yang mendarat dan berlabuh di luar Cirebon. Dari “Catalina” mereka pindah ke kapal perang “Banckert” yang kemudian menjadi hotel terapung selama perjanjian berlangsung. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sjahrir menginap di desa Linggasama, sebuah desa dekat Linggajati. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta sendiri menginap di kediaman Bupati Kuningan. Kedua delegasi mengadakan perundingan pada tanggal 11-12 November 1946 yang ditengahi oleh Lord Kilearn, penengah berkebangsaan Inggris.

Aksesibilitas

Gedung Perundingan Linggajati ini dapat dicapai dari Kota Cirebon dan dari Kota Kuningan. Kondisi jalan umumnya beraspal dan baik, dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat, dengan jarak rute perjalanan sebagai berikut :
  • CirebonGedung Perundingan Linggarjati ± 27 Km.
  • KuninganGedung Perundingan Linggarjati ± 15 Km.

Senin, 22 Februari 2016

Wisata ikan dewa cibulan

Wisata Ikan Dewa Cibulan Cirebon


Wisata Ikan Dewa Cibulan (6)
Selain di kenal sebagai Kota Udang, Cirebon juga memiliki segudang tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi. Daerah yang berada di pesisir laut Jawa ini juga dijuluki sebagai Kota Wali. Namun kali ini, kita berbicara tentang pesona lain dari Kota Cirebon. Yakni, tentang daya tarik Wisata Ikan Dewa Cibulan.
Berada di lokasi Pemandian Air Dingin Cibulan yang merupakan salah satu objek wisata tertua di daerah Kuningan, Ikan Dewa, menjadi daya tarik menarik untuk para wisatawan. Moment mandi di tengah seribu ekor ikan yang dipercaya sebagai jelmaan prajurit-prajurit yang membangkang pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi, menjadi hal unik dan seni tersendiri.
Objek wisata Cibulan terletak di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. Objek wisata ini diresmikan pada 27 Agustus 1939 oleh Bupati Kuningan saat itu, yaitu R. A. A. Mohamand Achmad. sehingga layak bila lokasi wisata ini menjadi salah satu yang tertua di daerahnya. Perkembangannya, pada tahun 1960, Cibulan secara permanen dibangun menjadi kolam renang yang dibuka untuk umum.
Wisata Ikan Dewa Cibulan (3)

Objek Wisata Ikan Dewa Cibulan terletak sekitar 7 km dari Kuningan atau kurang lebih 28 km ke arah Selatan Cirebon.

Kolam pemandian ini berdiri di atas lahan seluas 5 ha memiliki dua buah kolam besar berbentuk persegi panjang. Kolam pertama berukuran 35 x 15 meter persegi dengan kedalaman sekitar 2 m, sedangkan kolam kedua berukuran 45 x 15 meter persegi yang dibagi menjadi dua bagian, masing-masing dengan kedalaman 60 cm dan 120 cm.
Kedua kolam tersebut dihuni oleh puluhan Ikan Kancra Bodas (Labeobarbus Dournesis), atau yang lebih sering disebut sebagai Ikan Dewa oleh masyarakat setempat. Istimewanya dari kolam pemandian ini adalah pengunjung dapat berenang bersama ikan-ikan yang tergolong jinak tersebut. Selain itu, jika Anda tidak berenang dan hanya ingin menyentuh ikan ini saja, dapat menggunakan jasa pawang yang memang bertugas di lokasi tersebut.
Setiap 1 sampai 2 minggu sekali, bergantung pada tingkat kebersihan airnya, kolam tersebut dikuras untuk dibersihkan. Nah, uniknya pada saat air kolam dikuras, ikan-ikan yang tadinya berada di dalam kolam akan hilang entah kemana dan ketika kolam kembali diisi airnya, ikan-ikan tadi akan muncul kembali dengan jumlah yang disebutkan sama seperti sebelum kolam dikuras airnya.
Masyarakat setempat percaya, ketika air kolam dikuras, ikan-ikan di tempat Wisata Ikan Dewa Cibulan berpindah ke Kolam Cigugur, Kecamatan Cigugur yang juga merupakan objek wisata serupa di Cirebon.
Menurut cerita dari masyarakat setempat, ikan-ikan tersebut dahulu kala merupakan para prajurit kerjaan yang membangkang pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi sehingga mereka dikutuk. Konon ikan-ikan dewa ini dari dulu sampai sekarang tidak pernah bertambah ataupun berkurang jumlahnya. Yakni seribu ekor. Terlepas dari benar atau tidaknya legenda itu, sampai dengan saat ini tidak ada yang berani mengambil ikan ini karena dipercaya bahwa barang siapa yang berani mengganggu niscaya akan mendapat kemalangan.
Selain kolam dengan ikan dewanya, objek wisata Cibulan juga terkenal  dengan 7 sumber mata air keramat yang bernama Tujuh Sumur. Ketujuh sumber mata air ini terletak di sudut Barat pemandian, membentuk kolam-kolam kecil yang masing-masing memiliki nama, yaitu Sumur Kejayaan, Sumur Kemulyaan, Sumur Pengabulan, Sumur Cirancana, Sumur Cisadane, Sumur Kemudahan, dan Sumur Keselamatan. Konon, terdapat kepiting emas di dalam salah satu kolam tersebut. Bila sedang mujur, pengunjung yang bisa melihat kepiting itu dipercaya permohonannya akan terkabulkan.
Letak ketujuh mata air tersebut mengelilingi sebuah petilasan yang konon merupakan petilasan tempat Prabu Siliwangi beristirahat sekembalinya dari Perang Bubat. Petilasan itu berupa susunan batu seperti menhir dan dua patung harimau loreng, lambang kebesaran Raja Agung Padjadjaran. Tujuh Sumur dan Petilasan Prabu Siliwangi ini akan ramai dikunjungi orang untuk berziarah pada malam Jumat Kliwon atau selama bulan Maulud dalam penanggalan Hijriah. Masyarakat percaya bahwa air dari Tujuh Sumur membawa berkah dan dapat mengabulkan permohonan mereka.

wisata taman nasional gunung ciremai

Taman Nasional Gunung Ciremai

SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI

Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini



PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI



KONDISI FISIK KAWASAN


LUAS KAWASAN :
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
TOPOGRAFI :
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
IKLIM :
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
GEOLOGI :
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
TANAH :
Regosol , latosol, andosol.




BIO FISIK KAWASAN

Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500 Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin. Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.



FUNGSI EKOLOGIS


Habitat Flora Fauna Langka
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
Potensi Hidrologis Kawasan
Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn :
- Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun
- Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun




F L O R A

Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar (Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis (Anaphalissp)(LIPI, 2001).



F A U N A

Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung (Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik (Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).



ATRAKSI WISATA


Jalur Pendakian
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang. Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
Wisata Alam
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai, hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan wilayah Kuningan antara lain
  1. Lembah Cilengkrang, Curug sawer, Curug Sabuk ( Pajambon)
  2. Telaga Remis dan air deras Paniis (Pasawahan)
  3. Curug putri (Cigugur)
Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain:
  1. Curug Sawer (Argapura)
  2. Curug Tonjong dan panorama alam Sadarehe (Rajagaluh)
Wisata Budaya
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
Wisata Pendidikan
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
 
No.
Nama Objek
Desa
Kecamatan
Kabupaten
1
Bumi Perkemahan Cipada Argalingga Argapura Majalengka
2
Lembah Cilengkrang Pajambon Kramatmulya Kuningan
3
Bumi Perkemahan Paniis Paniis Pasawahan Kuningan
4
Bumi Perkemahan Cibeureum Setianegara Cilimus Kuningan
5
Bumi Perkemahan Palutungan Cisantana Cigugur Kuningan

AKSESIBILITAS
Jakarta - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja
TATA TERTIB PENGUNJUNG
  1. Pengunjung dengan tujuan wisata dan kunjungan khusus ( pengamatan dan penelitian) dapat menghubungi kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk mendapatkan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi).
  2. Tidak mengambil flora dan fauna atau bagian lainnya dari dalam kawasan.
  3. Tidak meninggalkan sampah sembarangan di dalam kawasan.
  4. Pastikan bara api padam sebelum meninggalkan kawasan.
  5. Melaporkan gangguan kawasan kepada petugas Balai TNGC.

Gedung Perundingan Linggarjati

14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca
 4  3  896


Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun 1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha. Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam. Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan. Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur, salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat  ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini. Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati gang.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=63&lang=id#sthash.X74Wzvvl.dpuf

Gedung Perundingan Linggarjati

14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca
 4  3  896


Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun 1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha. Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam. Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan. Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur, salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat  ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini. Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati gang.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=63&lang=id#sthash.X74Wzvvl.dpuf

Gedung Perundingan Linggarjati

14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca
 4  3  896


Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun 1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha. Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam. Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan. Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur, salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat  ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini. Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati gang.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=63&lang=id#sthash.X74Wzvvl.dpuf

Gedung Perundingan Linggarjati

14-12-2011 Kabupaten Kuningan 10923 baca
 4  3  896


Sejarah singkat Gedung Perundingan Linggajati adalah sebagai berikut. Pada awalnya tahun 1918 bangunan ini merupakan bangunan rumah milik Ibu Jasitem. Tahun 1921 oleh seorang berbangsa Belanda bernama Tuan Tersana dirombak menjadi semi permanen. Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi bangunan rumah tinggal orang Belanda yang bernama Van Oot Dome. Kemudian tahun 1935 dikontrak oleh Heiker dan dijadikan hotel yang bernama Rustoord. Pada masa pemerintahan Jepang hotel ini diganti namanya menjadi Hokay Ryokan. Tahun 1945 tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, hotel ini diberi nama Hotel merdeka. Tahun 1946 Hotel merdeka ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Indonesia denganPemeintah Belanda yang kemudian menghasilkan Naskah Linggarjati, karena perundingan itu sangat penting maka gedung ini disebut Gedung linggarjati. Kadang-kadang disebut Gedung Naskah linggarjati tetapi tidak tepat karena naskahnya disusun dan disimpan di tempat lain, yaitu di Jakarta dan Amsterdam. Tahun 1948-1950 ketika aksi militer tentara II, gedung ini dijadikan markas tentara Belanda. Tahun 1950-1975 ditempati oleh Sekolah dasar Negeri Linggajati. Pada saat ini bangunan tersebut berfiungsi sebagai museum.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggajati terletak pada koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Gedung Perundingan Linggajati ini memiliki luas 500 m2 dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha. Seluruh areal bangunan ini dibatasi oleh pagar. Dinding luar pagar bagian bawah, mengelilingi bangunan ditutup dengan lempengan batu hitam. Di depan pintu masuk ruang sidang terdapat bangunan yang menjorok kearah jalan beratap genting. Pintu masuk ruang dalam atau ruang sidang memiliki dua daun pintu dengan bahan dari kaca. Di kiri kanan pintu tersebut terdapat jendela yang tertutup kaca.
Bagian ruang sidang berdenah empat persegi panjang. Dalam ruang nini terdapat meja dan kursi yang digunakan sebagai tempat perundingan. Di sebelah utara dinding ruang sidang terdapat pintu masuk ke gang atau lorong. Gang tersebut berukuran 1,50 m dan berfungsi sebagai penghubung kamar-kamar. Pintu masuk kamar memiliki kisi-kisi dengan motif belah ketupat. Di sebelah utara ruang sidang ini terdapat 4 buah kamar tidur, salah satu kamar digunakan untuk Prof. Schemerhon. Disebelah barat  ruang sidang terdapat pintu keluar yang menuju halaman gedung ini. Dapur diletakan di sebelah selatan ruang sidang, sedangkan beberapa kamar lagi terdapat di belakang dapur dan untuk mencapainya melewati gang.
Lokasi:  
Koordinat : 06º52’7” S, 108º28’9” E
Telepon: 
Email:
Internet:
Arah:  
Fasilitas: 
Jam Buka:
Tutup:
Tiket:
Informasi Lebih Lanjut:
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=63&lang=id#sthash.X74Wzvvl.dpuf
Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Linggarjati).

Linggarjati

Gedung perundingan Linggarjati semula merupakan sebuah bangunan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918, yang kemudian berkembang dan berganti kepemilikan sampai digunakan sebagai gedung perundingan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Lokasinya yang terletak di kaki gunung dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk lokasi peristirahatan dan hotel.

Berikut adalah sejarah gedung perundingan Linggarjati:

Tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem

Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.

Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Os.

Linggarjati
Johannes Van Os, pemilik bangunan museum linggarjati pada tahun 1930

Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.

Tahun 1942 Jepang menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.

Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.

Tahun 1946 di gedung ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati.

Tahung 1948 sampai 1950 semenjak agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda.

Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini ditempati oleh sekolah dasar negeri linggarjati.

Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk sekolah dasar negeri Linggarjati.

Linggarjati
Salah

Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk dijadikan museum memorial.

Demikianlah perjalanan panjang sebuah gedung yang sangat bersejarah bagi berdirinya Bangsa Indonesia yang merdeka saat ini.
 
Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Linggarjati).

Linggarjati

Gedung perundingan Linggarjati semula merupakan sebuah bangunan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918, yang kemudian berkembang dan berganti kepemilikan sampai digunakan sebagai gedung perundingan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Lokasinya yang terletak di kaki gunung dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk lokasi peristirahatan dan hotel.

Berikut adalah sejarah gedung perundingan Linggarjati:

Tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem

Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.

Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Os.

Linggarjati
Johannes Van Os, pemilik bangunan museum linggarjati pada tahun 1930

Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.

Tahun 1942 Jepang menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.

Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.

Tahun 1946 di gedung ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati.

Tahung 1948 sampai 1950 semenjak agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda.

Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini ditempati oleh sekolah dasar negeri linggarjati.

Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk sekolah dasar negeri Linggarjati.

Linggarjati
Salah satu kamar.

Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk dijadikan museum memorial.

Demikianlah perjalanan panjang sebuah gedung yang sangat bersejarah bagi berdirinya Bangsa Indonesia yang merdeka saat ini.
 
Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati (Museum Linggarjati).

Linggarjati

Gedung perundingan Linggarjati semula merupakan sebuah bangunan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918, yang kemudian berkembang dan berganti kepemilikan sampai digunakan sebagai gedung perundingan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Lokasinya yang terletak di kaki gunung dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk lokasi peristirahatan dan hotel.

Berikut adalah sejarah gedung perundingan Linggarjati:

Tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem

Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.

Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Os.

Linggarjati
Johannes Van Os, pemilik bangunan museum linggarjati pada tahun 1930

Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.

Tahun 1942 Jepang menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.

Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.

Tahun 1946 di gedung ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati.

Tahung 1948 sampai 1950 semenjak agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda.

Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini ditempati oleh sekolah dasar negeri linggarjati.

Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk sekolah dasar negeri Linggarjati.

Linggarjati
Salah satu kamar.

Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk dijadikan museum memorial.

Demikianlah perjalanan panjang sebuah gedung yang sangat bersejarah bagi berdirinya Bangsa Indonesia yang merdeka saat ini.
 

Taman Nasional Gunung Ciremai

SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI

Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini



PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI



KONDISI FISIK KAWASAN


LUAS KAWASAN :
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
TOPOGRAFI :
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
IKLIM :
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
GEOLOGI :
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
TANAH :
Regosol , latosol, andosol.




BIO FISIK KAWASAN

Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500 Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin. Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.



FUNGSI EKOLOGIS


Habitat Flora Fauna Langka
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
Potensi Hidrologis Kawasan
Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn :
- Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun
- Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun




F L O R A

Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar (Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis (Anaphalissp)(LIPI, 2001).



F A U N A

Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung (Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik (Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).



ATRAKSI WISATA


Jalur Pendakian
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang. Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
Wisata Alam
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai, hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan wilayah Kuningan antara lain
  1. Lembah Cilengkrang, Curug sawer, Curug Sabuk ( Pajambon)
  2. Telaga Remis dan air deras Paniis (Pasawahan)
  3. Curug putri (Cigugur)
Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain:
  1. Curug Sawer (Argapura)
  2. Curug Tonjong dan panorama alam Sadarehe (Rajagaluh)
Wisata Budaya
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
Wisata Pendidikan
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
 
No.
Nama Objek
Desa
Kecamatan
Kabupaten
1
Bumi Perkemahan Cipada Argalingga Argapura Majalengka
2
Lembah Cilengkrang Pajambon Kramatmulya Kuningan
3
Bumi Perkemahan Paniis Paniis Pasawahan Kuningan
4
Bumi Perkemahan Cibeureum Setianegara Cilimus Kuningan
5
Bumi Perkemahan Palutungan Cisantana Cigugur Kuningan

AKSESIBILITAS
Jakarta - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja
TATA TERTIB PENGUNJUNG
  1. Pengunjung dengan tujuan wisata dan kunjungan khusus ( pengamatan dan penelitian) dapat menghubungi kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk mendapatkan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi).
  2. Tidak mengambil flora dan fauna atau bagian lainnya dari dalam kawasan.
  3. Tidak meninggalkan sampah sembarangan di dalam kawasan.
  4. Pastikan bara api padam sebelum meninggalkan kawasan.
  5. Melaporkan gangguan kawasan kepada petugas Balai TNGC.

Taman Nasional Gunung Ciremai

SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI

Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini



PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI



KONDISI FISIK KAWASAN


LUAS KAWASAN :
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
TOPOGRAFI :
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
IKLIM :
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
GEOLOGI :
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
TANAH :
Regosol , latosol, andosol.




BIO FISIK KAWASAN

Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500 Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin. Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.



FUNGSI EKOLOGIS


Habitat Flora Fauna Langka
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
Potensi Hidrologis Kawasan
Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn :
- Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun
- Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun




F L O R A

Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar (Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis (Anaphalissp)(LIPI, 2001).



F A U N A

Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung (Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik (Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).



ATRAKSI WISATA


Jalur Pendakian
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang. Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
Wisata Alam
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai, hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan wilayah Kuningan antara lain
  1. Lembah Cilengkrang, Curug sawer, Curug Sabuk ( Pajambon)
  2. Telaga Remis dan air deras Paniis (Pasawahan)
  3. Curug putri (Cigugur)
Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain:
  1. Curug Sawer (Argapura)
  2. Curug Tonjong dan panorama alam Sadarehe (Rajagaluh)
Wisata Budaya
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
Wisata Pendidikan
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
 
No.
Nama Objek
Desa
Kecamatan
Kabupaten
1
Bumi Perkemahan Cipada Argalingga Argapura Majalengka
2
Lembah Cilengkrang Pajambon Kramatmulya Kuningan
3
Bumi Perkemahan Paniis Paniis Pasawahan Kuningan
4
Bumi Perkemahan Cibeureum Setianegara Cilimus Kuningan
5
Bumi Perkemahan Palutungan Cisantana Cigugur Kuningan

AKSESIBILITAS
Jakarta - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja
TATA TERTIB PENGUNJUNG
  1. Pengunjung dengan tujuan wisata dan kunjungan khusus ( pengamatan dan penelitian) dapat menghubungi kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk mendapatkan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi).
  2. Tidak mengambil flora dan fauna atau bagian lainnya dari dalam kawasan.
  3. Tidak meninggalkan sampah sembarangan di dalam kawasan.
  4. Pastikan bara api padam sebelum meninggalkan kawasan.
  5. Melaporkan gangguan kawasan kepada petugas Balai TNGC.

Taman Nasional Gunung Ciremai

SEJARAH TAMAN NASIOANAL GUNUNG CIREMAI

Sejarah dari Taman Nasional Gunung Ciremai secara singkat dapat digambarkan seperti pada bagan di bawah ini



PETA KAWASAN GUNUNG CIREMAI



KONDISI FISIK KAWASAN


LUAS KAWASAN :
Berdasarkan SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 seluas + 15.500 Ha, yang terdiri 6.800,13 Ha di Kabupaten Majalengka dan 8.699,87 Ha di Kabupaten Kuningan
TOPOGRAFI :
Berombak, Berbukit, sampai bergunung, Puncak tertinggi mencapai : 3078 M dpl.
IKLIM :
Iklim B dan C, Curah hujan : 2000 ÔÇô 4000 mm/thn.
GEOLOGI :
Batuan endapan vulkanik tua dan vulkanik muda.
TANAH :
Regosol , latosol, andosol.




BIO FISIK KAWASAN

Taman Nasional Gunung Ciremai termasuk dalam wilayah administratif Kab. Kuningan dan Majalengka dengan luas +15.500 Ha, yang berbatasan langsung dengan 25 desa di Kab. Kuningan dan 20 desa di Kab. Majalengka Hutan di kawasan TNGC sebagian besar merupakan hutan alam primer (virgin forest) yang dikelompokkan ke dalam hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan hutan pegunungan sub alpin. Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda ( barat dan timur) dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.



FUNGSI EKOLOGIS


Habitat Flora Fauna Langka
Ketinggian Gunung Ciremai mencapai 3.078 m dpl merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Kelompok hutan dataran rendah ini merupakan habitat flora fauna unik dan langka, seperti Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Macan Kumbang/Tutul (Panthera pardus).
Potensi Hidrologis Kawasan
Berdasarkan inventarisasi BKSDA JABAR II tahun 2006, di dalam kawasn :
- Wilayah Kuningan 156 mata air, 147 titik mengalir sepanjang tahun
- Wilayah Majalengka terdapat 36 mata air produktif dan 7 sungai yang mengalir sepanjang tahun




F L O R A

Hutan Gunung Ciremai memiliki + 119 koleksi tumbuhan terdiri dari 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi non-anggrek termasuk koleksi tanaman hias yang menarik seperti Kantong semar (Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia.
Secara umum vegetasi hutan Gunung Ciremai didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis (Anaphalissp)(LIPI, 2001).



F A U N A

Satwa langka di kawasan Gunung Ciremai, antara lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung (Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik (Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung berkicau lainnya.
Di kawasan TNGC juga terdapat ┬▒ 20 jenis burung sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae) sehingga kawasan TNGC menjadi daerah penting untuk burung ( Important Bird Area ) dengan kode JID024 (Bird Life International Indonesia tahun 1998).



ATRAKSI WISATA


Jalur Pendakian
Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai merupakan salah satu tujuan utama pendakian generasi muda dan pecinta alam dengan rata-rata kunjungan setiap tahunnya diperkirakan mencapai 15.000 orang. Terdapat tiga jalur pendakian yaitu jalur Linggarjati dan Palutungan di Kab. Kuningan serta jalur Apuy di Kab. Majalengka.
Wisata Alam
Panorama alam Gunung Ciremai cukup unik dan variatif serta memiliki nilai estetika yang tinggi seperti pesona sunrise dipuncak Ciremai, hutan alam yang indah, keindahan air terjun di daerah lembah, pemandian alam dan sumber air panas. Wisata alam yang berada di dalam kawasan wilayah Kuningan antara lain
  1. Lembah Cilengkrang, Curug sawer, Curug Sabuk ( Pajambon)
  2. Telaga Remis dan air deras Paniis (Pasawahan)
  3. Curug putri (Cigugur)
Sedangkan di wilayah Majalengka antara lain:
  1. Curug Sawer (Argapura)
  2. Curug Tonjong dan panorama alam Sadarehe (Rajagaluh)
Wisata Budaya
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
Wisata Pendidikan
Bagi para peziarah/wisatawan budaya, kawasan TNGC banyak memiliki tempat yang bernilai sejarah tinggi dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat diantaranya : Situ Sangiang (Banjaran), Gunung Pucuk (Argapura), Sumur Tujuh (Cibulan), Sumur Cikayan (Pasawahan), dan Situ Ayu Lintang (Mandirancan).
 
No.
Nama Objek
Desa
Kecamatan
Kabupaten
1
Bumi Perkemahan Cipada Argalingga Argapura Majalengka
2
Lembah Cilengkrang Pajambon Kramatmulya Kuningan
3
Bumi Perkemahan Paniis Paniis Pasawahan Kuningan
4
Bumi Perkemahan Cibeureum Setianegara Cilimus Kuningan
5
Bumi Perkemahan Palutungan Cisantana Cigugur Kuningan

AKSESIBILITAS
Jakarta - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipaten - Cirebon - Linggarjati
Bandung - Kadipeten - Majalengka - Maja
TATA TERTIB PENGUNJUNG
  1. Pengunjung dengan tujuan wisata dan kunjungan khusus ( pengamatan dan penelitian) dapat menghubungi kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk mendapatkan SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi).
  2. Tidak mengambil flora dan fauna atau bagian lainnya dari dalam kawasan.
  3. Tidak meninggalkan sampah sembarangan di dalam kawasan.
  4. Pastikan bara api padam sebelum meninggalkan kawasan.
  5. Melaporkan gangguan kawasan kepada petugas Balai TNGC.